Rekonstruksi Tragis Pembunuhan Juwita Jurnalis Muda: Derita di Balik Diam, Keji di Balik Seragam
D'On, Banjarbaru, Kalimantan Selatan - Di balik seragamnya yang seharusnya menjadi simbol kehormatan dan perlindungan, seorang prajurit TNI AL justru menorehkan luka mendalam pada dunia jurnalistik Indonesia. Kelasi Satu Jumran, anggota aktif TNI Angkatan Laut, kini berada di pusaran kasus pembunuhan sadis terhadap Juwita (23), seorang jurnalis muda dari Newsway.co.id, yang nyawanya direnggut dengan cara yang begitu keji dipiting dan dicekik hingga tewas.
Sabtu, 5 April 2025, suasana tegang menyelimuti Jalan Trans Kalimantan, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Di bawah pengawasan ketat Polisi Militer TNI AL, Jumran memperagakan 33 adegan dalam rekonstruksi pembunuhan yang mengguncang publik ini. Mengenakan baju tahanan, ekspresi datar di wajah Jumran tak mampu menyembunyikan kekejaman yang diperagakannya kembali langkah demi langkah menuju kematian seorang perempuan muda yang semestinya sedang meniti kariernya, bukan menjemput ajal secara tragis.
Diseret ke Kematian di Dalam Mobil
Rekonstruksi mengungkap bahwa pembunuhan terjadi di dalam mobil yang digunakan Jumran untuk membawa Juwita. Motif pembunuhan belum diungkap secara rinci, namun proses pembunuhan begitu jelas dan mengerikan. Dalam mobil tersebut, Jumran memiting leher Juwita, lalu mencekiknya hingga korban kehabisan napas. Tidak ada pertolongan. Tidak ada ampun. Yang tersisa hanyalah sunyi dan maut.
Sementara itu, sepeda motor yang biasa digunakan Juwita dalam liputannya, ditemukan jauh dari tempat kejadian. Motor tersebut ditinggalkan di sebuah pusat perbelanjaan, sebuah bagian dari skenario jahat yang dirancang Jumran untuk mengelabui petugas.
Setelah memastikan Juwita tak lagi bernyawa, Jumran meminta seseorang untuk mengambil motor korban dari pusat perbelanjaan. Ia lalu membawa motor itu ke lokasi penemuan mayat, menciptakan ilusi bahwa Juwita mengalami kecelakaan lalu lintas. Sebagai pelengkap sandiwara, motor itu bahkan sempat dicuci untuk menghilangkan sidik jari. Sang prajurit juga menghancurkan ponsel korban—di dalamnya terdapat rekaman video yang diyakini sebagai bukti kekerasan seksual atau pemerkosaan yang dilakukan Jumran terhadap Juwita sebelumnya.
Menutupi Jejak dengan Sandiwara
Setelah semua “panggung” disiapkan, Juwita diletakkan di pinggir jalan bersama motornya yang sudah tampak “rusak”. Seolah-olah ia baru saja mengalami kecelakaan tunggal. Namun skenario itu runtuh seiring penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwenang. Bukti demi bukti yang ditemukan justru membuka tabir kekejaman di balik kematian Juwita.
Tersangka kemudian melanjutkan perjalanannya menggunakan mobil sewaan. Ketika kabar kematian Juwita mencuat ke publik, banyak yang awalnya mengira ini hanyalah kecelakaan lalu lintas biasa. Namun investigasi mendalam memunculkan fakta yang jauh lebih mengerikan—bahwa seorang anggota militer terlibat langsung dalam tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap seorang jurnalis perempuan.
Kejadian yang Memantik Duka dan Kemarahan
“Rekonstruksi berjalan lancar, tapi kami masih menunggu proses penyidikan untuk mendapatkan peristiwa ini secara utuh,” kata Dedi Sugianto, kuasa hukum keluarga Juwita. Ia menegaskan bahwa keluarga korban menginginkan keadilan ditegakkan sepenuhnya, tak hanya sebagai bentuk tanggung jawab hukum, tapi juga demi martabat korban yang telah direnggut nyawanya dengan begitu brutal.
Pihak Denpomal Banjarmasin sejauh ini masih enggan memberikan pernyataan resmi mengenai hasil rekonstruksi, dengan alasan penyidikan masih berlangsung. Namun satu hal yang pasti: proses hukum terhadap Jumran akan dilanjutkan ke pengadilan militer, tempat di mana ia akan menghadapi konsekuensi dari tindakan yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mencoreng institusi tempat ia berdinas.
Lebih dari Sekadar Pembunuhan
Kematian Juwita bukan hanya tragedi personal, tapi luka sosial yang dalam. Seorang jurnalis muda, yang seharusnya dilindungi atas pekerjaannya, justru menjadi korban dari kekuasaan yang disalahgunakan. Kasus ini menjadi cermin retak dari realitas kelam—bahwa di balik baju dinas, bisa saja tersembunyi niat jahat yang mematikan.
Kini, masyarakat menanti keadilan ditegakkan. Bukan sekadar vonis, tetapi juga pengakuan bahwa kekerasan terhadap perempuan, terhadap jurnalis, dan terhadap kemanusiaan tidak akan pernah dibenarkan dalam bentuk apa pun. Dan nama Juwita akan terus dikenang, bukan sebagai korban semata, tapi sebagai simbol bahwa kebenaran harus terus diperjuangkan, meski harus dibayar mahal.
(Mond)
#Pembunuhan #WartawatiDibunuhTNIAL #Kriminal #TNIAL #Militer