Breaking News

Tragedi di Gaza: Klinik UNRWA Dibombardir, 22 Warga Sipil Tewas Termasuk Anak-Anak

Warga melewati asap mengepul dari sebuah gedung setelah menjadi sasaran serangan tentara Israel di Kota Gaza, Sabtu (22/3/2025). Foto: Jehad Alshrafi/AP Photo

D'On, Gaza
- Gaza kembali berduka. Sebuah serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan Israel menghancurkan klinik kesehatan milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Kota Jabalia, Gaza Utara. Serangan yang terjadi pada Rabu (2/4) ini mengakibatkan setidaknya 22 warga sipil Palestina kehilangan nyawa, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia. Tragedi ini menambah daftar panjang pelanggaran terhadap hukum perang internasional yang secara tegas melarang serangan terhadap fasilitas kesehatan.

Klinik Berubah Jadi Neraka: 9 Anak Tewas

Klinik yang selama ini menjadi tempat perlindungan bagi ratusan pengungsi berubah menjadi lautan api. Sumber medis melaporkan bahwa sembilan anak termasuk di antara korban tewas, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka, banyak di antaranya dalam kondisi kritis.

Saksi mata menggambarkan kengerian yang terjadi. Api berkobar hebat setelah ledakan mengguncang klinik, menghanguskan tubuh-tubuh tak berdosa hingga sulit dikenali. Tangisan dan teriakan meminta pertolongan menggema di tengah puing-puing bangunan yang hancur lebur. Tim penyelamat bekerja tanpa lelah, menarik korban dari reruntuhan, meski sering kali yang mereka temukan hanyalah jasad tak bernyawa.

Israel Klaim Serangan Diperlukan, Palestina Sebut Kejahatan Perang

Militer Israel mengakui telah melancarkan serangan tersebut. Mereka berdalih bahwa fasilitas kesehatan itu digunakan oleh Batalion Jabalia Hamas sebagai basis operasi, meskipun hingga kini tidak ada bukti konkret yang disampaikan untuk mendukung tuduhan tersebut.

Sementara itu, kecaman keras datang dari berbagai pihak. Kantor media Gaza menyebut serangan ini sebagai "kejahatan perang yang nyata" dan menyerukan agar dunia internasional segera bertindak. Kementerian Luar Negeri Palestina juga mengutuk keras pembantaian ini dan mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah tegas guna menghentikan agresi Israel serta memastikan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.

Tragisnya, ini bukan kali pertama klinik UNRWA menjadi sasaran serangan. Beberapa bulan sebelumnya, fasilitas yang sama juga dihantam bom Israel, mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa.

Kematian Tak Berhenti: 21 Korban Tewas di Lokasi Lain

Serangan di Jabalia hanyalah bagian dari rangkaian kekerasan yang terus berlangsung. Di berbagai wilayah lain di Gaza, serangan udara dan artileri Israel kembali menewaskan 21 orang. Petugas medis setempat melaporkan bahwa korban jiwa terus bertambah setiap harinya, dengan mayoritas korban adalah warga sipil yang tidak memiliki tempat berlindung.

Sejak dimulainya operasi militer Israel pada Oktober 2023, lebih dari 50.400 warga Palestina telah tewas, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Sementara itu, lebih dari 114.000 orang mengalami luka-luka, banyak di antaranya harus menghadapi amputasi atau cacat permanen akibat keterbatasan layanan medis di wilayah yang terkepung.

Dunia Menyaksikan: ICC dan ICJ Ambil Tindakan

Kekejaman ini tidak luput dari perhatian dunia internasional. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan mantan Menteri Pertahanan, Yoav Gallant. Keduanya didakwa atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Selain itu, Israel juga tengah menghadapi gugatan di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan genosida terhadap rakyat Palestina. Proses hukum ini menjadi secercah harapan bagi para korban yang mendambakan keadilan di tengah kegelapan perang yang tak berkesudahan.

Sementara itu, dunia terus menyaksikan. Akankah keadilan akhirnya ditegakkan? Ataukah seruan para korban hanya akan menjadi gema yang menghilang di antara reruntuhan Gaza yang hancur?

(Reuters)

#Internasional #AgresiIsrael #Gaza