Breaking News

Tragedi di Lubuk Paraku: Rem Blong, Motor Terjun ke Sungai, Satu Tewas dan Tiga Luka-Luka

Polisi Evakuasi Jasad Korban Kecelakaan di Lubuk Paraku pada Jumat (4/4/2025). (Ist)

D'On, Padang
Sebuah kecelakaan tragis kembali mengoyak ketenangan jalanan Padang-Solok. Kali ini, lokasi maut itu berada di tikungan tajam Jembatan Lubuk Paraku, kawasan yang memang dikenal angker dan penuh risiko, terutama bagi pengendara yang tak siap.

Pada Jumat siang yang cerah, tepatnya 4 April 2025, sebuah sepeda motor dengan nomor polisi BA 6929 melaju dari arah Solok menuju Padang. Pengendaranya, Ismed Mahmud (55), warga yang dikenal berhati-hati, tak menyangka bahwa perjalanan hari itu akan menjadi mimpi buruk bukan hanya baginya, tapi juga bagi mereka yang tak berdosa di sekitarnya.

Rem Blong di Tikungan Maut

Menurut keterangan Kapolsek Lubuk Kilangan, Kompol Sosmedya, insiden bermula ketika motor yang ditunggangi Ismed bersama seorang anak kecil sebagai penumpang, kehilangan kendali saat memasuki tikungan curam di Lubuk Paraku. Rem yang seharusnya menyelamatkan nyawa justru tak berfungsi blong total. Dalam hitungan detik, laju motor yang semula terkendali berubah menjadi peluru tak terarah.

Tikungan tajam yang menjorok ke tepi jurang menjadi titik akhir kendali. Motor tak hanya melesat keluar jalur, tapi menabrak seorang pejalan kaki, Soldanius (59), yang tengah berdiri di pinggir jalan. Benturan itu keras. Tak mampu menghentikan laju, sepeda motor beserta empat orang pengendara, penumpang anak-anak, dan dua pejalan kaki terjungkal dari atas jembatan, langsung menghantam derasnya arus sungai di bawah.

Derasnya Arus Menyeret Korban Sejauh 50 Meter

Sungai di bawah Jembatan Lubuk Paraku bukan aliran tenang. Airnya deras, berbatu, dan siap menelan siapa pun yang tak siap. Setelah terjatuh, keempat korban terseret sejauh kurang lebih 50 meter. Warga sekitar yang menyaksikan hanya mampu terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berlarian mencari pertolongan.

Saat tim SAR dan kepolisian tiba, suasana mencekam. Satu per satu korban berhasil dievakuasi dari aliran sungai yang dingin dan berbuih. Namun tak semuanya selamat.

Satu Nyawa Melayang

Korban bernama Denis Prayesi dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Sosoknya dikenal sebagai pribadi hangat di lingkungan tempat tinggalnya. Hari itu, ia hanya kebetulan berada di lokasi, namun nasib berkata lain. Tiga korban lainnya—Ismed Mahmud, M Ibnu (anak-anak), dan Soldanius mengalami luka-luka dan kini dirawat intensif di rumah sakit terdekat.

“Kami sudah olah TKP dan memeriksa beberapa saksi. Motor mengalami kerusakan serius di bagian kanan. Untuk kerugian materiil masih dalam pendataan,” jelas Kompol Sosmedya.

Jalan Berbahaya, Cuaca Cerah, Namun Tak Menjamin Keselamatan

Ironisnya, kejadian ini berlangsung saat cuaca sedang cerah dan jalanan dalam kondisi kering. Tikungan Jembatan Lubuk Paraku sendiri sudah lama menjadi momok bagi pengendara. Permukaan jalan yang tidak mulus meski berlapis beton, dipadukan dengan tikungan tajam dan minimnya kontrol kecepatan, menjadikannya salah satu titik paling rawan di jalur Padang-Solok.

“Rambu lalu lintas ada. Tapi jika kendaraan tidak dalam kondisi prima, rambu tak banyak membantu,” ujar Kompol Sosmedya lagi. Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh pada kendaraan sebelum bepergian, khususnya di rute-rute ekstrem seperti Sitinjau Lauik dan Lubuk Paraku.

Pengingat Keras: Jalan Raya Bukan Tempat Menantang Nasib

Kecelakaan ini kembali membuka mata kita semua tentang betapa tipisnya batas antara hidup dan maut di jalan raya. Sebuah tikungan, satu kelalaian, atau satu komponen kendaraan yang gagal bisa mengubah hidup selamanya.

Bagi Denis Prayesi, hari itu adalah perjalanan terakhir. Bagi Ismed, Ibnu, dan Soldanius, luka-luka mungkin akan sembuh, tapi trauma barangkali akan tinggal lebih lama.

Mari jadikan peristiwa ini sebagai peringatan serius. Jalanan bukan hanya soal kecepatan dan keahlian tapi soal kesiapan, kehati-hatian, dan tanggung jawab terhadap sesama.

(Mond)

#Peristiwa #Kecelakaan #Padang